Antara Sibuk dan Produktif

Siapa yang merasa kalau hustle culture dan trend sukses di usia muda, belakangan ini jadi bikin kita seolah harus sibuk dan kejar-kejaran dengan waktu? Rasanya hari-hari yang kita lewati gak ada artinya kalau kita gak punya kesibukan. Hal ini bikin banyak orang jadi punya segudang to-do list yang kadang gak realistis dan dibuat hanya untuk mencari kesibukan.

Namun, sesibuk apapun hari yang dilewati, kita gak bisa membohongi diri sendiri mengenai produktivitas. Tanpa disadari, kita sering memenuhi keseharian dengan aktivitas yang membuat kita merasa sibuk padahal sebenarnya gak juga, seperti work from cafe yang gak benar-benar menyelesaikan semua pekerjaan, nongkrong bareng teman yang obrolannya gak bikin kita berkembang, scroll sosial media berjam-jam, dan masih banyak kegiatan lainnya yang gak relevan dengan apa yang ingin kita capai. Kesibukan semacam ini bikin kita merasa "capek doang" tapi gak jelas arahnya mau ke mana. Kalau begini, berarti bukan motivasinya yang harus diperbaiki, tapi sistemnya. 

Cari kesibukan yang relevan dengan tujuan

Kita perlu mengetahui bagaimana caranya memiliki kesibukan yang meskipun gak menghasilkan uang secara langsung, tapi setidaknya mendekatkan kita kepada sesuatu yang ingin dicapai.

1. Tentukan sesuatu yang ingin dicapai

Bukan cuma sebagai motivasi, memiliki sesuatu yang ingin dicapai juga membantu kita menemukan arah jalan mana yang akan dilewati. Semakin spesifik hal yang ingin dicapai, akan semakin jelas pula gambaran mengenai apa saja yang bisa membawa kita sampai ke sana.

2. Pecah target menjadi langkah-langkah kecil 

Terkadang kita merasa overwhelmed bukan karena terlalu banyak pekerjaan, tapi karena hal-hal yang dilakukan hari itu gak mendekatkan kita pada tujuan yang ingin dicapai. Temukan hal sederhana yang bisa dilakukan setiap hari dan mendekatkan diri pada tujuan yang ingin dicapai. Hal ini juga bisa bantu meminimalisir kemungkinan burnout, lho!

3. Buat to-do list dan time block

Aku biasanya membuat to-do list untuk mengetahui apa saja yang ingin aku lakukan dalam satu hari. Kemudaian, aku memindahkan daftar tersebut ke time block untuk mengetahui kapan aku akan mengeksekusi kegiatan-kegiatan tersebut. Hal ini membantu mengatur waktu dan membuat keseharianku terasa jauh lebih rapi.

to-do list
 
time block

4. Pakai planner yang sederhana tapi membantu

Saat ini, kita akan sangat mudah menemukan digital productivvity planner yang memiliki banyak fitur menarik. Tapi, aku seringkali merasa terdistraksi dengan fitur-fitur tersebut. Alih-alih memantau aktivitas harian, aku malah terlalu fokus menjelajahi fitur-fitur pada planner dan membuat planner tersebut terlihat indah. Apakah kamu merasakan hal ini juga? Jika iya, berarti planner sederhana ini adalah pilihan yang tepat untuk kamu. 

5. Konsisten untuk membangun sistem

Kalau kamu sudah baca buku Atomic Habits karya James Clear, pasti kamu familiar dengan langkah-langkah yang aku sebutkan sebelumnya. Konsep membangun sistem dengan memecah tujuan menjadi hal-hal kecil yang realistis sangat membantu membuat hari-hariku terasa lebih produktif. Sejak menerapkan hal ini, aku jadi gak merasa "capek doang" karena aku tahu kalau yang aku lakukan sehari-hari merupakan langkah kecil yang mendekatkanku kepada sesuatu yang aku inginkan.

Memiliki keseharian yang sibuk belum tentu produktif, begitupun sebaliknya. Langkah kecil yang mendekatkan diri pada tujuan, gak selalu bikin kita sibuk seharian. Jadi, yuk tentukan dan ambil langkah kecilmu mulai sekarang!

  

Comments